Tampilkan postingan dengan label Drag Bike. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Drag Bike. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 September 2014

Yamaha Mio Salatiga



Sahabat Modifikator  –   antara dominasi pacuan skubek tim-tim ternama, tiba-tiba muncul sebuah skubek garputala tim daerah yang curi perhatian di arena trek 201 meter. Yamaha Mio yang dijoki Bayu Ucil di kelas Matik s/d 200 cc tersebut mampu merengsek di urutan depan.
Meski hanya menempati posisi kedua dalam event kebut lurus di Cilacap, Jawa Tengah beberapa waktu lalu, setidaknya skubek ini mampu tunjukkan taringnya bersaing di papan atas. “Itu belum maksimal. Ada komponen yang masih bisa ‘dimainkan’ lagi buat pangkas waktu,” beber Arya Aditya pemilik motor ini.
“Motor matik ini memang masih dalam taraf pengembangan untuk mencapai target yang kita inginkan,” beber Irfan, mekanik M_Tech Racing yang berada dibalik kencangnya motor ini. Apa saja bro ubahannya?
Untuk kejar kapasitas 200 cc, Irfan jejali piston aftermarket Tiger oversize 2.50 (66 mm). Dengan langkah piston yang masih standar, terhitung volume silinder bersih jadi 197,9 cc.
Lalu, buat pancing asupan gas deras ke ruang bakar plus melancarkan pembuangan gas sisa, profil kem dirancang ulang. Bumbungan kem in dibikin 267, sedang ex-nya 268. “Noken as ini kami bikin dari noken as mobil Honda Estilo. Materialnya lebih kuat,” beber Irfan yang akrab disapa Monyonk ini.
Menyesuaikannya, “Katup masuk pakai yang gede, yakni 33 mm. Sedang katup buangnya 28,5 mm,” tutur mekanik yang mangkal di Jl.Merak Gg. Jalak 04, RT.06/02, Klaseman, Salatiga.
Sebagai pemasok Pertamax Plus ke ruang bakar, diserahkan pada karburator Keihin PE berdiameter venturi 28 mm.
Pada sektor pengapian, mengandalkan CDI dari Kawahara Racing dipadukan dengan koil YZ125 buat melipatgandakan tegangan menuju busi. “Pakai koil YZ125, tegangan di busi bisa mencapai 30.000 volt. Sehingga percikan yang dihasilkan lebih besar dan kuat,” bebernya.

Selasa, 02 September 2014

Honda Sonic Bore Up 200CC



Tertarik mengandalkan Sonic karena pengin membuktikan kalau motor ini bisa
mengalahkan Satria F sekaligus untuk riset part performanya


Meski baru 4 bulan menginjakkan rodanya di lintasan drag bike Tanah Air, Honda Sonic milik Vincent Wijaya, penggawang tim VND Vincent’s JFK MP2 Racing Team ini mulai menunjukkan tajinya. Pasalnya baru 3 kali berlaga, namun ketiganya langsung raih jawara.

“Saya order motor ini langsung dari Thailand sekitar pertengahan Maret 2014 lalu. Dari awal datang sampai sekarang belum ada yang berubah, kecuali pada cat rangkanya. Kebetulan dari 3 kali beraksi, berhasil menjadi yang tercepat, makanya urusan mesin belum ada yang diutak-atik,” tutur Vincent.


Agar pengapian di ruang bakar lebih besar, aplikasi CDI Api Tech

Pria berkacamata minus ini juga menuturkan kalau best time sementara yang diraih tunggangan ini adalah 7,372 detik, jokinya Fandi Pendol. Yakni saat berlaga di kelas bebek 4 tak 200 cc ajang drag bike Tegal, Jateng awal Juni 2014 lalu.

“Waktu di Tegal, kiprah perdana motor ini tampil di ajang drag bike Tanah Air. Nah yang bikin saya tambah senang, karena berhasil mengalahkan sekitar 25 peserta lain yang semuanya mengandalkan Suzuki Satria F150. Sedangkan motor ini adalah satu-satunya motor Sonic yang tampil di kelas tersebut,” kekeh Vincent.


Blok mesin dan cylinder head CBR 150 dipercaya buat dongkrak ruang bakar menjadi 200 cc.

Sedangkan aksi kedua tunggangan ini adalah di gelaran drag bike Purwakarta, Jabar pada pertengahan Juni lalu. “Selain berhasil menjadi yang tercepat di kelas bebek 4 tak 200 cc, yang ditunggangi Imam Ceper. Juga berhasil finish ketiga di kelas yang sama saat dibawa Arif Tijil,” imbuh pria yang didampingi 10 personil ini.

Lalu prestasi ketiga yang diraih tunggangan asal negeri Gajah Putih ini yakni saat berlaga di Brigif, Bandung pertengahan Juli lalu. “Meski saat itu acaranya pas bulan puasa, namun pesertanya lumayan banyak. Besutan yang ditunggangi Fandi Pendol ini berhasil menjadi yang tercepat di kelas FFA bebek 4 tak 250 cc,” tukas Vincent.


Asupan BBM makin optimal berkat karburator TMR 34

Pria yang buka speed shop Vincent’s Racing Gallery (VRG) di Jl. Taman Sari 8 No.129, Jakbar ini beralasan kenapa andalkan Honda Sonic untuk turun di kelas bebek 4 tak 200 cc karena pengin tampil beda dibanding tim lain yang mayoritas mengandalkan Satria F150.

“Kebanyakan pada mengandalkan Satria F yang basis mesinnya 150 cc. Nah saya tertarik dengan Sonic yang dapur pacu standarnya 125 cc ini karena pengin membuktikan bahwa motor ini juga mampu melesat kencang serta bisa mengalahkan rival-rivalnya tersebut. Selain itu, sekaligus untuk riset part performanya yang nantinya bisa saya jual ke pasaran,” imbuhnya.


Knalpot VRG produk sendiri juga ikut bantu dongkrak performa

Agar tunggangan ini bisa berlaga di kelas 200 cc, mengandalkan blok mesin dan cylinder head copotan Honda CBR 150. “Biar langkahnya makin panjang, setang seher orisinal Sonic di-custom menjadi 57 mm. Lalu tambah paking blok setebal 2 cm. Oh ya, diameter pistonnya 66 mm. Total volume ruang bakarnya menjadi 195 cc,” tutup Vincent.

Mantap.  (http://fahrulnceo.blogspot.com)


DATA MODIFIKASI:
Blok mesin : Honda CBR 150
Cylinder head : Honda CBR 150
Paking blok : Aluminium 2 cm
Piston : 66 mm
Noken as : Custom
Setang seher : Custom
Karburator : TMR 34
CDI : Api Tech
Koil : RM
Knalpot : VRG
Rasio : Racing
Sok belakang : YSS
Pelek : DID & Yoko
Radiator : Honda CBR 150
Estimasi biaya : Rp 55 jutaan