Tampilkan postingan dengan label Flat Track. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Flat Track. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 September 2014

Suzuki Thunder Flat Track Custom



   American style, mdifikasi aliran wong Amrik. Negara paling demokrasi dalam modifikasi. Punya jurus merusak dan kembali memperbaiki alias modif. Sama dengan yang ini, tanpa meninggalkan identitas Suzuki Thunder.
Tangki Thunder masih asli coy and boy.  Kendati lumayan banyak yang 'dirusak-rusak' pada kaki dan rangka, lalu pakai duit merakitnya ulang. Di sini disebut flat track. Au ah,  artinya, silakan baca terus…
Aura flat track muncul dari karya modifikasi Topo yang punya Tauco Custom Builder (TCB). Topo sering main sulap. Seperti menyulap motor jadi gaya negaranya paman sam. “Itu milik saya, pak,” kata Aang, arek Suroboyo berumur 35 tahun.
Tujuan flat track  hanya untuk jalan mulus, menyiratkan tongkrongan cepat, kilat atau wussss. Penikmatnya mereka yang bukan pembalap dan juga bukan geng motor. Korban nonton balap, iya! 

Pondasinya tadi, bodi ringkas dan kaki-kaki besar. Bodi yang aerodinamis seolah mengiris angin. Sementara Thunder adalah motor cruiser yang bodinya tebal dan panjang. Makanya, butuh pesulap mahir, macam Topo ini.
Namanya modifikasi, jelas ada korban. Korban pertama, ya dompet. Soal isi dompet konsumen cepat abis, Topo gak pernah pakai sulap, apalagi hipnotis. Sub-frame alias rangka dudukan jok tadi, dipotong dan harus dibentuk ulang. “Pakai pipa hollow ukuran 2 x 2 cm,” kata si pesulap yang bernama asli Topo Goedel Atmodjo yang markasnya di Kebagusan, Jagakarsa, Jakarta Selatan itu.
Langkah itu untuk mengejar bentuk tipis buritan. Nanti kan ada kenalpot undertail alias di atas roda dan di bawah ujung jok. Mantap, memang! American style, bro. Jangan main-main!
Trus, trus… ya kenalpot dibikin TCB sesuai kebutuhana dan penampilan. Dudukan jok sampai bodi pakai pelat galvanis. Soal tekuk dan melipat pelat itu, Topo gemulai memainkannya. 
Monosok wakil mutakhirnya flat track, copotan milik Suzuki Satria F-150. Apa gak lembek ini sok? Katanya sih, derajat posisinya dibikin miring. Daya serap suspensi masih mumpuni dengan bobot Thunder. Apalagi wing arm  variasi lokal, memungkinkan penyetelan sampai pas sokbreker tunggal ini. “Kaki-kaki juga pondasi. Makanya, sekalian pakai sokbreker depan Suzuki GSX 400  teleskopik,” tukas Topo.

Sabtu, 06 September 2014

Modifikasi Yamaha Scorpio


Modifikasi sebaiknya dilakukan perlahan. Jangan buru-buru, daripada hasilnya mengecewakan. Ini yang menjadi pegangan Ayub Waskita dalam membangun tunggangannya. Yamaha Scorpio lansiran tahun 2002 yang baru dibawa ke garasinya setahun lalu, akhirnya rampung.
Pria yang profesinya sebagai photographer ini gemar modifikasi aliran jantan. “Awalnya main road race, drag race, sampai grasstrack,” bukanya ramah.
Belum puas dengan tunggangan beraliran supermoto, ia kembali mencoba memuaskan hasrat modifikasi dengan mengikuti virus masa kini. Alhasil, Scorpio miliknya dirombak jadi flat tracker.
Di negeri asalnya, flat tracker digunakan untuk balap lintasan. Tipikal trek lingkaran membutuhkan keahlian khusus dalam mengendarainya. Meski belok ke kiri, setang diarahkan ke kanan. Biar luapan tenaga yang mengarahkan roda belakang guna memangkas lap time.
Sejatinya, aliran kustom bike membebaskan konsep keseluruhan pada kreativitas pemiliknya. Tidak ada pakem pasti, hanya garis besar tema yang jadi ciri.
Arena Motor di kawasan Ciledug, Tangerang, ia percayakan untuk menyulap tunggangannya. Si pio (panggilan Scorpio-nya) ditelanjangi. Bagian rangka, mesin, dan bodi memenuhi pojokkan gudang. Kemudian, acara ‘mutilasi’ pun dimulai. Sub frame dipotong agar dimensinya lebih pendek, khas aliran tracker.
“Sebenarnya lebih enak sudut bagian tengah rangka diperkecil. Tapi, agar menjaga handling tetap stabil akhirnya dipertahankan,” tuturnya.
Peredam kejut milik Suzuki GSX-R 400 dijejalkan guna kenyamanan. Dibagian belakang, monosok bawaan harus mengalah dengan tipe dual sok supaya serasi dengan lengan ayun kustom. Kejar tampilan klasik!
Agar memperkokoh tampilan, kaki-kaki dijejalkan dengan piranti besar. “Ada part nganggur di rumah, bekas supermoto yang enggak jadi dipakai,” kekeh Ayub sambil nyeruput kopi dan bilang satu set tromol Kawasaki KLX digunakan sebagai pegangan jari-jari peleknya.
Beralih ke bagian mesin, pria ini paham dengan konsekuensi modifikasi. Ketika kaki-kaki diperbesar, maka dapur pacu harus disesuaikan. Tak mau ambil resiko, satu bendel mesin 225 cc ia sodorkan pada bengkel langgangannya sejak main adu kecepatan dahulu. Bengkel Bellka di kawasan Cengkareng, Jakarta Barat, jadi pelabuhan buat menjaga performa harian.
Terakhir, urusan tampilan. Rumah modifikasi milik Tomi Gunawan kena giliran. Tomi Airbrush yang buka gerai di kawasan Duri Kepa, Jakarta Barat, melabur bodi kustom Pio dengan cat rusty effect. Meski melakukan proses pengecatan, tapi hasil akhirnya mirip dengan warna besi karat. “Pernish ikut dilabur biar tampilan mengkilap,” jelas Ayub.
Setali tiga uang, pengerjaan rombak tunggangan yang dilakukan di beda rumah modifikasi, tetap menghasilkan konsep serasi. Perencanaan matang, pengerjaan sabar tak mengejar tenggat waktu, pasti hasilnya tidak mengecewakan. Salut bro!